Pejabat Publik Yang Arogansi : Tanda Kemunduran Demokrasi dan Hilangnya Kepercayaan Masyarakat

Untuk mencegah semakin memburuknya situasi ini, menurut saya ada beberapa langkah yang harus segera diambil:

  1. Pejabat Publik Harus Mengedepankan Etika Komunikasi. Kritik adalah bagian dari demokrasi. Pejabat seharusnya belajar merespons kritik dengan bijak dan profesional, bukan dengan emosi atau sikap meremehkan.
  2. Pemerintah Harus Lebih Transparan dan Akuntabel. Jika kritik terus bermunculan, itu artinya ada masalah yang harus diperbaiki. Pemerintah harus terbuka dalam menjelaskan kebijakan dan mendengarkan suara rakyat.
  3. Media dan Masyarakat Harus Terus Kritis
    Media massa dan masyarakat sipil memiliki peran penting dalam mengawasi komunikasi pejabat publik. Jangan biarkan sikap arogan ini menjadi budaya yang normal. Kritik yang membangun harus terus disuarakan.

Saatnya Pejabat Publik Berbenah.

Indonesia adalah negara demokrasi yang seharusnya menjunjung tinggi dialog terbuka antara pemerintah dan rakyat. Ketika pejabat mulai kehilangan kepekaan dalam berkomunikasi, itu adalah tanda bahaya bagi masa depan demokrasi kita.

Dan pejabat yang saya maksud disini bukan hanya pejabat tinggi, namun mulai dari Kepala Desa/Lurah, Camat, Bupati/Walikota, Gubernur, Kepala-kepala OPD, Menteri,hingga Presiden.

Masyarakat berhak mendapatkan pemimpin yang bisa berkomunikasi dengan bijak, bukan yang merendahkan mereka. Sudah saatnya pejabat publik berbenah dan mulai memahami bahwa kritik bukanlah ancaman, melainkan masukan berharga untuk membangun negara/Daerah yang lebih baik.

Oleh : Pinnur Selalau
(Pemred RadarCyberNusantara.Id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *