“Jadi bagaimana cara aku bisa meluruskannya?” Tanya harimau.
“Hmm, sebenarnya tidak terlalu sulit. Saya hanya tidak yakin apakah kamu akan berani melakukannya atau tidak,”
“Tidak ada yang aku takutkan,” kata sang harimau yang berencana ingin meluruskan ekornya terlebih dahulu sebelum ia memakan si kancil. Lalu, dia mendesak kancil, “Cepat! Bantu aku meluruskan ekorku!”
Kancil mengumpulkan sembilan ikat jarum pinus dengan cepat, lalu mengikat ekor harimau ke pohon sambil membakar jarum pinus tadi. Harimau merasa kepanasan karena harus menahan api. Walhasil, rambut di sekujur tubuhnya malah terbakar habis. Harimau pun marah, “Kamu benar-benar Kancil yang bodoh! Ekorku memang terlihat lurus, tetapi kamu telah membakar pakaianku. Aku tidak akan memaafkanmu!” Alih-alih ketakutan, si kancil dengan tenang menjawab, “Jangan khawatir. Aku akan memberimu yang baru,” “Kau telah membodohi aku,” lanjut harimau. “Aku serius. Namun, kamu sebaiknya mencuci tubuh kamu sampai bersih sebelum kamu mengenakan pakaian baru,” “Di mana letak airnya?” “Di sana,” harimau yang sudah terbakar dan terluka parah merasa tidak sabar untuk mengikuti kancil menemukan air. Namun, malang bagi harimau, si kancil malah mengiringnya ke area di mana para buaya yang sedang lapar telah menunggu. Para buaya ini langsung menerkam harimau yang kini tidak memiliki rambut dan telah terluka parah. Harimau mempercayai kata-kata dari kancil dan menjatuhkan martabat dan kedudukannya sendiri. Akibat keputusannya yang salah, tidak hanya ia gagal mendapatkan Kancil sebagai makan siangnya, tetapi juga telah harus menutup riwayat kehidupannya dengan cara yang malang.
Dari cerita pendek dan dongeng di atas, dapat diambil pelajaran bahwa jangan pernah terlalu mudah terperdaya oleh kata-kata orang lain. Sebagai manusia, kita harus memiliki pandangan pribadi untuk menghindari potensi celaka di masa yang akan datang.
***

