
Bandung-Jawa Barat| Tiada hari tanpa aksi sosial. Itulah lelaku Dwi Mukti Wibowo. Pepatah Ini bukan hanya basa basi atau sekedar menciptakan sensasi, tapi janji yg harus ditunaikan menjadi bukti. Meski disadari di masa prihatin ini segala kegiatan yg dilakukan harus disesuaikan dengan kondisi dilapangan berdasarkan skala prioritas, sesuai target dan mempertimbangkan anggaran yg serba terbatas.


Terkait kegiatan sosial, selain hal tersebut diatas juga dipantik rasa perduli dan kelegaan hati. Dilandasi ketulusan sebagai kuncinya. Menolong menurut caleg duafa yg ber-hobby blusukan dikawasan kaum marjinal ini adalah mengasah ketajaman sense of humanity yg harus siap terimplementasikan disetiap kesempatan, kapanpun dan dimanapun atas nama kemanusiaan.
Sebagai contohnya, saat Dwi Mukti tiba2 melangkahkan kakinya yg dituntun rasa penasaran dan keperdulian menyinggahi sebuah kawasan yg dihuni para pengumpul barang bekas di wilayah Kelurahan Cisaranten Kidul. Pensiunan Bank Indonesia ini tiba2 datang bertandang kesana. Karena rasa heran, dibalik gedung perkantoran, sekolahan dan kawasan perumahan, tersempil sederetan rumah yg sangat sangat sederhana. Rumah yg terkesan ala kadarnya, terparkir beberapa gerobak penuh tumpukan kardus, botol plastik, kaleng bekas dan barang rongsokan. Dengan asesoris jemuran yg menggantung dimana-mana. Ketika masuk lebih dalam, nuansa gubug derita mirip kisah di sinetron semakin terasa.


