Di Jepang, misalnya, tradisi saling memberikan omiyage (saling tukar hadiah) kuat sekali untuk mempererat persahabatan. Di Negeri Sakura ini juga, perempuan adalah pihak yang pertama menyatakan cinta. Novel bertema cinta di Indonesia, di mana pihak pria yang menyatakan cinta, jadi aneh di kalangan remaja Jepang.
Di Vietnam, mantra Paman Ho merupakan ikatan persahabatan. Ini karena begitu cintanya masyarakat Vietnam kepada Ho Chi Minh. Dan masih banyak lagi mantra-mantra persahabatan yang bisa kita gali bila hubungan penulis antarbangsa makin erat.
Tantangan berikutnya, kata Mbak Okky, Satupena harus bisa menumbuhkan sastra seperti Pujangga Baru. DJA meresponsnya positif. Tapi kini sastra baru itu mau tidak mau akan berafiliasi dengan Artificial Intelligence (AI). Mungkin namanya, Pujangga Cyborg-AI.
Ya, AI akan masuk dan tak bisa dipisahkan dari dunia sastra. Para penulis mau tak mau, suka atau tidak suka, akan bersahabat dengan AI.
Jangan seperti Bon Jovi dan Elton John yang khawatir para penulis dan pemusik kariernya akan tersodok AI. Jadikan AI sebagai asisten dalam dunia sastra dan musik, kata Denny JA dalam sambutan peluncuran sastra musikal berbasis AI beberapa waktu lalu di Jakarta.
Satupena kini diketuai Denny JA. Dan bila Denny JA yang memimpin, kata Elza Peldi Tahir—penulis buku puisi esai Manusia Gerobak—segalanya akan lancar.
Bagiku, DJA seperti Midas. Apa pun yang disentuhnya akan menjadi emas. Dan Satupena pun, akan menjadi emas sastra di masa depan. Semoga.
Bangkitlah sastra dan budaya Indonesia. (*)
Penulis adalah mantan wartawan Republika, anggota PPWI Bekasi

