Peringati 100 Hari Wafat Al Alamah Al Arif Billah Syeh.KH.Mahmud Hasil bin Muhammad Hasil di Majelis Nur Wasilah, Bengalon

Selama di Martapura, Guru Mahmud kerap menghadiri majelis-majelis taklim, karena itulah beliau banyak mendapat sanad ijazah dari para ulama Martapura terdahulu. Di antaranya, dari Tuan Guru H. Anang Sya’rani dalam ilmu hadits, Tuan Guru H. Husin Dahlan, Tuan Guru H. Seman Mulia, Tuan Guru H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul), dan banyak lagi yang lainnya.

Meski berguru pada banyak ulama, Guru Mahmud mengaku bahwa guru utama beliau adalah Tuan Guru H. Abdussyukur atau yang lebih dikenal dengan Muallim Syukur Teluk Tiram.

Pada tahun 1973, Guru Mahmud lulus dari Pesantren Darussalam. Setelah lulus di Pesantren Darussalam, beliau memperdalam Ilmu Tasawuf dengan Muallim Syukur Teluk Tiram, khususnya permasalahan ilmu hakikat.

Setelah wafat Muallim Syukur, Guru Mahmud melanjutkan pencarian ilmu pada Tuan Guru Anang Ramli Bati-Bati.

Pada tahun 1990 Guru Mahmud hijrah ke Palangkaraya. Di sana, beliau mendirikan Pondok Pesantren Sunan Jati.

5 tahun kemudian, Guru Mahmud mulai mengajarkan ilmu yang beliau dapat dari Muallim Syukur. Beberapa orang kemudian merasakan manfaat dari ilmu tersebut di kehidupannya. Melihat kemanfaatan tersebut, Guru Mahmud pun kemudian menuangkan ilmu tersebut dalam sebuah kitab yang diberi nama “Simpanan Berharga”. Kitab tersebut diterima luas oleh banyak penuntut ilmu, dan membuat Guru Mahmud sibuk mengajar di berbagai daerah, khususnya wilayah Kalimantan.

Selain kitab “Simpanan Berharga”, beliau kemudian menulis kitab “Sarantang-Saruntung”, “Waja Sampai Kaputing” dan “Kayuh Baimbai”.( ARSD )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *