PBB Puti Jaji Rampungkan Tujuh Buku Kebudayaan Kutai Barat, Tonggak Baru Pelestarian Adat Lokal

KUTAI BARAT – Upaya pelestarian budaya Kutai Barat mencapai tahap penting dengan rampungnya penulisan tujuh buku kebudayaan oleh Perkumpulan Bina Benua (PBB) Puti Jaji. Hasil kerja ini dipaparkan dalam rapat pemaparan akhir yang digelar di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Barat, Senin (24/11/2025), dan disaksikan jajaran pemerintah daerah, tokoh adat, serta lembaga penggiat budaya.

Direktur PBB Puti Jaji, Paulus Kadok, dalam presentasinya menjelaskan bahwa penulisan tujuh buku tersebut merupakan mandat resmi dari Pemerintah Kabupaten Kutai Barat pada 2025 untuk memperkuat dokumentasi budaya lokal secara ilmiah, sistematis, dan berbasis data lapangan.

“Selama ini banyak literatur tentang budaya Kutai Barat ditulis oleh peneliti luar daerah. Di satu sisi hal itu memperkaya perspektif, namun banyak pula yang tidak tepat dalam pemilihan istilah, makna, bahkan roh filosofis budaya. Dengan ditulis oleh putra-putri daerah sendiri, kita menghasilkan referensi yang lebih otentik dan sahih,” tegas Paulus Kadok.

Proses Penulisan Berbasis Riset Lapangan
Paulus menjelaskan bahwa tim PBB Puti Jaji melibatkan penulis, antropolog, akademisi, tokoh adat, serta pelaku budaya langsung di kampung-kampung. Prosesnya tidak hanya mengutip arsip atau dokumen lama, tetapi melakukan:

  • wawancara dengan pelaku budaya,
  • pendokumentasian praktik upacara adat,
  • penggalian istilah dan bahasa asli,
  • validasi dengan Tetua Adat setempat.

“Setiap istilah yang ditulis diuji ulang melalui narasumber komunitas adat, sehingga tidak ada makna yang ‘hilang’ ketika diterjemahkan dalam bahasa tulisan,” jelas Paulus.

Dorong Kolaborasi Pemerintah – Lembaga Adat
Paulus juga menegaskan bahwa selesainya tujuh buku ini bukan akhir, melainkan awal dari kerja besar dokumentasi kebudayaan berkelanjutan di Kutai Barat. Ia meminta agar pemerintah terus membuka ruang kemitraan yang lebih besar bagi lembaga adat dan organisasi lokal.

“Kepercayaan ini adalah tonggak penting. Kami ingin kerja seperti ini menjadi tradisi rutin agar Kutai Barat tidak bergantung pada peneliti luar untuk menulis identitasnya,” ujarnya.

Dokumentasi Tradisi yang Terancam Punah

Dalam kesempatan tersebut, Paulus juga mengungkapkan bahwa banyak tradisi lokal kini memasuki fase kritis karena minimnya pelaku, salah satunya tradisi seni mengukir jenazah atau Matik dalam tradisi Dayak Benuaq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *