Tak hanya di Blora, namun juga menjadi salah satu identitas dan sejarah panjang nasional karena akhirnya berkembang di daerah sekitar.
Pengelola Rumah Artefak, Lukman Wijayanto menjelaskan manusia Kalang sudah ada sejak 2.500 tahun lalu. Manusia Kalang sendiri tinggal di hutan. Catatan Manusia Kalang ada di Prasasti Kuburan dan Prasasti Kamalagiyan. Dalam prasasti itu disebutkan jika Manusia Kalang mendapatkan tugas dari kerajaan Majapahit untuk menjaga dan mengelola hutan.
Selain itu catatan soal manusia kalang juga ada di masa pemerintahan Sultan Agung. Manusia kalang diminta Sultan Agung untuk membantu pemindahan keraton dari Kota Gede ke Pleret.
“Karena manusia kalang ini punya keahlian bidang pertukangan, perkayuan, dan tembaga,” tambahnya.
Komjen Pol Agus Andrianto yang Pulang Kampung ke Blora menjadi trendding topik para awak media
Sehingga Belanda mendapatkan banyak pemasukan yang bisa untuk menutup kerugian akibat Perang Belgia dan Perang Diponegoro.
Menurutnya di Blora ada 170 kuburan kalang. Dari jumlah itu ada sekitar 20,an kubur batu kalang.
Selain Manusia Kalang di Blora juga ada Samin. Ajaran Samin juga berkembang di wilayah sekitar. Mereka kemudian menyebut sebagai Sedulur Sikep. Samin ini juga memiliki catatan sejarah panjang. Mereka bahkan dianggap berbahaya oleh penjajah. Sehingga ditangkap.
Samin ini memiliki cara perjuangan yang unik dalam melawa penjajahan. Mereka tidak melakukan kekerasan. Namun menolak ditindas dengan cara sederhana. Seperti tidak mau mengikuti perintah penjajah. (Tim-Red)

