Tanjakan Haliyan Ghubok: Medan Pertarungan Antara Si Optimis VS Si PesimisOleh: Ali Rukman

“Kik khanglaya ji di lewati Mobil nyak aga lapah Jurak, kalau jalan ini bisa di lewati mobil saya mau jalan terbalik!” kata seorang pesimis.
“Potong kuping saya kalau pekon Sukarami bisa ditembus kendaraan!” seru yang lain.
“Sampai ke adek-adekmu….., membangun jalan secara swadaya nggak kalau mudah” kata dia yang mengaku pejabat.

Awalnya ucapan itu menyakitkan. Lama-lama justru jadi bahan tertawaan. Biarlah mereka memanggul kata-kata, kami memanggul batu. Biarlah mereka menabur sinis, kami menabur kerja. Sejarah sudah berulang kali membuktikan: yang dicatat bukan suara nyinyir, melainkan keringat yang menetes di tanah.

Setiap meter jalan yang terbentang adalah doa untuk si optimis dan sekaligus teguran bagi si pesimis—terutama yang duduk di kursi empuk, rajin memotret rapat, tapi lupa memotret solusi.

Sanak daghak memang anak kebun. Tetapi dari kebun inilah kopi yang harum ke kota, dari kebun inilah sayur yang segar ke pasar. Dan kini, dari kebun inilah lahir jalan: bukan sekadar jalan tanah yang mengeras, tetapi jalan keyakinan bahwa optimisme rakyat selalu lebih kuat dari pesimisme siapa pun.

Jika jalan adalah simbol peradaban, maka kami telah membangun peradaban kami sendiri. Dengan tangan yang kasar, dengan baju yang lusuh, dengan semangat yang sederhana, tapi sesungguhnya lebih agung daripada semua baliho yang terpajang di Liwa.

Kini, Tanjakan Haliyan Ghubok berdiri sebagai saksi bisu. Ia tahu siapa yang bekerja, siapa yang hanya berkata. Ia menyimpan nama-nama yang berkeringat, dan melupakan suara-suara nyinyir yang berlalu begitu saja.

Dan bila kelak sejarah menoleh ke belakang, ia hanya akan mencatat satu hal: bahwa di Tanjakan Haliyan Ghubok, optimisme rakyatlah yang menang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *