Scene 1 (Monolog), ruang bagi peserta untuk refleksi diri dan berani mengungkapkan emosi terdalam secara personal. Scene 2 (Dialog), latihan komunikasi dua arah untuk membangun kembali kepercayaan diri dan koneksi antar-individu. Dan Scene 3 (Polilog), interaksi dinamis lebih dari dua orang yang melatih empati, kontrol emosi, dan kemampuan bersosialisasi dalam kelompok.
“Teknik ini bukan sekadar bermain peran, melainkan media katarsis atau pelepasan emosi yang tersumbat,” ujar Dr Deri Sis Nanda di sela-sela kegiatan.
Inspirasi dari “Mozaik Pengejar Mimpi”
Sebagai penutup, Dr. Susanto yang juga merupakan Wakil Ketua dan Konselor P4GN DPD GRANAT Provinsi Lampung memberikan motivasi tentang pentingnya optimisme. Ia menekankan bahwa rehabilitasi adalah “kesempatan kedua” yang harus digenggam erat.
Simbolisasi semangat tersebut diwujudkan melalui penyerahan hadiah buku karya Dr. Susanto, “Mozaik Pengejar Mimpi”. Buku kumpulan cerpen ini merangkum perjalanan inspiratif hidupnya saat menempuh pendidikan di berbagai negara. Melalui buku ini, ia berharap para residen memiliki pemantik semangat untuk terus belajar dan berubah demi masa depan yang lebih cerah.
Tentang Yayasan Cahaya Azzura Bersinar
Berlokasi di Lampung Tengah, yayasan ini merupakan lembaga rehabilitasi penyalahguna narkoba yang mengedepankan pendekatan medis, sosial, dan spiritual. Di bawah kepemimpinan Benny Mangkunegara, S.E., yayasan ini berkomitmen penuh menciptakan individu yang pulih, produktif, dan berdaya guna bagi masyarakat.***

